Selasa, 04 April 2017

Atas Dasar Pilihan



“ Cinta” !! siapa sih yang gak kenal kata cinta? ini bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita. Cinta adalah sesuatu yang lumrah dimiliki oleh setiap orang, yaa begitu juga denganku. Aku memiliki banyak cinta yang mengiasi hidupku. Bagiku cinta merupakan anugrah yang harus diyukuri, dan cinta yang paling tinggi adalah kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. 
Aku mengartikan cinta itu indah namun sayangnya tidak seindah takdirku. Aku sendiri dilahirkan dan dibesarkan bukan dengan cinta yang aku harapkan. Begitu memilukannya aku dengan keluhan yang selalu aku telan sendiri, rasanya seperti panah yang menembus relung hatiku yang paling dalam jika ingatanku tertuju pada kenangan dan masa laluku yang menyiksaku, bagiku cinta benar- benar menghianatiku, tapi dapat pula menterjemahkan hidupku. 
Beginilah hidup yang aku jalani sekarang dengan bermodalkan kemandirian yang aku latih sejak duduk di bangku SMP,  karna aku tidak ingin menjadi beban orang lain. Aku mencoba menghadapi kejamnya kehidupan, melawan setiap kegagalan yang hendak menjatuhkanku. Aku tak perduli dengan alasan buruknya takdir dihidupku, dengan dunia yang rasanya tak pernah adil padaku. “Cukup aku gadis yang merasakan penderitaan hidup, jangan ada orang lain lagi”, begitulah pintaku kepada sang pencipta.
Aku hidup seorang diri, ini karena orang tua yang tega membuangku ke panti asuhan tanpa adanya belas kasihan, tanpa rasa penasaran mereka dengan keadaanku. Tapi walaupun begitu aku tak menaruh kebencian besar pada mereka, karena mereka yang telah memberikan kesempatan ku untuk merasakan indahnya kehidupan, walaupun aku tidak pernah sama sekali melihat wajah indah mereka, bahkan apakah mereka masih hidup juga aku tak tahu. Sudahlah lupakan semuanya.!!
Ya inilah salah satu alasanku belum berani mencintai seseorang meski umurku yang sudah layak untuk menikah, walaupun terkadang memang terlintas dipikiranku untuk mendapatkan teman hidup untuk melepas masa lajangku. mungkinkah aku begitu egois? Sepertinya memang begitu, namun aku tak perduli, karna bagiku ini memang belum waktunya aku menjalin yang halal dengan laki- laki pilihan. Karena menikah adalah suatu obsesi bukan ekspektasi.
 
Aku memang meridukan pernikahan syurga, yaitu menikah atas dasar cinta karena Allah. Aku yakin akan ada titik bahagia di waktu yang tepat  karena bagiku Tuhan telah menciptakanku dengan penciptaan yang benar-benar sempurna. Meskipun aku terlihat hidup sendiri, namun aku tak merasa kesepian karena aku punya banyak teman dan Allah yang selalu disampingku.
Dengan umurku yang sudah masuk 23 tahun. Tak terasa sudah lumayan lamanya aku diberikan nikmat waktu dan kesempatan oleh Allah untuk merajut setiap getir kehidupan . Aku seorang muslimah, namaku adalah Anisa Fatimah Zahara, aku biasa dipanggil Anis. Aku menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Indonesia. Aku berkonsentrasi dijurusanku yaitu Designer , karena aku bercita cita ingin jadi seorang designer muda di indonesia. Aku berasal dari kota malang, namun sekarang menetap dipulau dewata, Bali.
Yah di pulau inilah aku akan mulai mengawali kesuksesanku, aku bekerja di sebuah perusahaan sebagai staff administrasi, hitung-hitung ini untuk penghidupanku dan untuk bayar uang kuliah tentunya.
Aku kuliah sambil bekerja, Paginya kerja malamnya kuliah, begitulah rutinitas yang aku jalani setiap harinya, dipulau ini juga aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, mereka yang selalu menjunjung tinggi Agama, aku mulai berhijrah dan menggunakan pakaian syar’i di pulau dewata ini tentunya. Yah kalok sudah dengar pulau ini, tentunya dipikaran kita muncul kata “pergaulan bebas” tapi bagiku ini tidak seburuk pandangan kita, karena semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri, bagaimana caranya kita menyesuaikan diri dan menyikapinya. Memang benar sih di pulau ini penduduknya mayoritas non muslim, tapi keramahan dan toleransi memang benar- benar diterapkan disini. Tak perduli agama apapun mereka, karena yang aku tau mereka semua orang- orang baik, Karena bagiku hidup itu tentang bagaimana kita menyikapi diri dan keyakinan kita pada sang pencipta. Aku bergabung disebuah organisasi di kampus, semenjak bergabung di organisasi itulah aku bisa belajar banyak tentang Agama, dari sanalah keyakinan kuatku akan tuhan yang telah menciptakanku terbentuk. Aku biasanya berkumpul dengan teman- teman satu organisasi setiap hari minggu, dan kajian pun juga sering aku datangi dengan menyempatkan diri diwaktu luangku. Untuk hari senin sampai sabtu aku harus kuliah dan bekerja. 

Yaah begitulah sibuknya seorang wanita sepertiku, tapi ini membuatku benar- benar merasakan sebuah kehidupan. Aku selalu mengawali pagiku dengan senyum lebar dibibirku. Seperti biasanya aku merangkai kata demi kata di atas kertas putih diary yang aku punya, setelah selesai menuai isi hati, buku Diary aku tutup sebelum terlambat ke kampus. “Aku ingin selalu tepat waktu dan menghargai waktu tentunya”. Kebiasaan ini selalu aku terapkan sebelum memulai aktivitasku, kemudian aku Siap- siap ke kampus untuk mengukir kesuksesanku, “ciiieeehhh Aamiin”.

Dikampus aku punya banyak teman yang selalu mengisi kekosongan dalam hidupku.  Aku mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk- sibuknya mengurus tugas akhir, Tapi tak pernah menyibukkan diri untuk memikirkan seseorang yang menjadi teman hiduku. Karena aku begitu percaya diri akan mendapatkan pemuda yang sesuai dengan yang aku impikan. Dan mimpi itu memang benar- benar nyata terjadi dalam hidupku. Entah dari mana aku harus mulai menceritakannya, tapi yang jelas ceritanya begini “Suatu hari, kalok gak salah itu terjadi di bulan maret 2015, aku menghadiri sebuah rapat mahasiswa muslim dikampus, karena aku memang menjadi anggota. waktu itu kami membahas masalah Seminar yang akan dilaksanakan pada bulan April.  Tak lama kemudian Setelah rapat selesai, satu- persatu kami meninggalkan aula, tapi aku tak sadar kalok buku diaryku terjatuh di aula kampus.  Aku memang orang yang sangat ceroboh. Perasaanku begitu bimbang, pikiran ku hanya tertuju pada buku itu karena aku menumpahkan seluruh isi hatiku pada buku diaryku. “Separuh nyawaku adalah buku itu” yaahhh lebay nya seorang mahasiswa akhirnya terkuak.
J Banyak pertayaan yang muncul, Bagaimana jika buku itu benar- benar hilang?, ataukah buku itu diangkut ke tong sampah,? Sampai kepada pertanyaanku yang ketiga dan ini benar- benar terjawab” bagaimana jika buku itu di pungut oleh seseorang” ternyata memang benar, takdir Tuhan mempertemukan ku dengan seorang pemuda melalui buku Diaryku, tak lama kemudian aku menerima sebuah pesan, karena No Hp ku juga memang sudah tertera dibuku itu. Aku janjian bertemu dengannya disebuah tempat. Karna memang tujuanku untuk mendapatkan kembali buku itu.
Tapi yang maha kuasa berkehendak lain, pemuda itu sudah sering aku lihat mengikuti sebuah kajian. Dia pemuda yang sudah dicap baik oleh banyak orang. Duuhh betapa senangnya jika aku bisa berkenalan dengan pemuda seperti dia. Namanya Fahri, dia pemuda yang benar- benar sesuai dengan yang aku harapkan untuk bisa menjadi teman hidupku dan menjadi imamku karena kepribadian dan kesopanan yang dia miliki. Dengan senyumnya yang mendamaikan dan tatapan matanya yang menenangkan membuatku pandai merangkai kata sendri. Dia memang pemuda yang bisa membuka hatiku, ciieeeehhhh...
Siapa sih yang gk kenal pemuda ini? selain populer di kampus karena kecerdasannya, fahri menjadi ketua di forum mahasiswa muslim di kampus,  juga mahasiswa semester akhir dan  mengambil jurusan Perpajakan. Tentunya fahri pemuda Sholih yang seolah- olah hatinya selalu terpaut dengan masjid karena Dia paling mudah ditemui di masjid. Waahh betapa mengagumkannya. Dari sana aku mulai berandai- andai “ andaikan dia adalah takdirku” wkwkwk

Karena kejadian itu, sekarang aku sudah tau menempatkan hatiku kepada siapa, Aku selalu berdoa pada yang maha memberi cinta, untuk ditakdirkan menjadi teman hidup Fahri. Aku tak berani mengatakan apa-apa pada Fahri, namun aku memohon dan mencurahkan isi hatiku pada yang di atas. Karena bagiku inilah yang terbaik, jalan ini memang yang paling indah. Jika aku mengingatinya, bisa menambah kecintaanku pada sang pencipta.
Tapi apalah dayaku, Fahri bahkan tidak mengenalku sama sekali, pertemuanku dengannya juga hanya karena buku diary itu. L tapi aku mencoba menguatkan diri dengan mengembalikan semuanya kepada yang maha kuasa. Karena seperti kisahnya Nabi Yusuf dengan Zulaikha, yaitu gadis yang begitu besar kecintaannya kepada Yusuf. Semakin dia berusaha mendekati Yusuf, semakin Allah jauhkan dia dari Yusuf, tetapi kemudian Allah satukan dan dekatkan dia dengan Yusuf setelah Zulaikha memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Allah dan berhenti mengharapkan Yusuf. “Yaahh siapa tau aku senasib sama denga Zulaikha, wkwkw J
Sebenarnya bukan itu saja sih alasanku untuk tak berani berharap padanya, aku ingin menjalin hubungan dengan benar dan menghindari Zina hati. Aku tak ingin hubungan yang bisa menjerumuskan ku pada lubang perzinaan karena sangat memuliakan kesucianku sebagai perempuan. Sebagai perempuan aku ingin disatukan Dalam ta’at.
Aku punya cintanya Allah yang lebih besar dari segalanya, cinta yang tidak akan pernah menghianatiku. Andaikan aku berharap besar pada Fahri, aku akan lebih berharap pada Allah karena dia bisa lebih merasakan, memahami dan mampu menterjemahkan perasaanku. Tidak akan menyia-nyiakan.
 Memang benar, diluar rencana kita ada rencana Allah yang lebih indah. Akhirnya tanpa aku sadari akhirnya Allah dekatkan aku dengannya. Fahri tiba- tiba hadir dalam hidupku, dan ini memang benar- benar nyata. Di usiaku yang sudah menginjak 23 Tahun, 6 bulan sudah aku mengenalnya setelah kejadian itu. Sekarang aku serasa bermimpi ketika dia meminta untuk mendatangi waliku untuk mengajak aku ta’aruf (mengenal lebih jauh diriku), aku benar- benar tak percaya, dengan jalan lurus yang dia pilih dan betapa bahagianya aku setelah do’a ku terjawab sudah. Semoga proses ta’aruf ku berjalan baik, semoga dia bisa mengenal baik aku dan sebaliknya. Begitulah harapan terbesarku.  Dia kemudian mendatangi kerabat dekatku, yaitu wanita yang sempat mengasuhku dikala itu.
Setelah proses ta’aruf selesai, aku denganya sudah merasa cocok. Dan kami sudah saling mengenal baik, Fahri akhirnya memutuskan untuk mengkhitbahku, akupun menerima dengan berbesar hati. Kami menikah diusiak yang sudah masuk 24 tahun.  Singkat cerita, dia sekarang sudah menjadi suamiku. Suami yang benar – benar membimbingku menuju ridho-Nya. Aku sangat beruntung bisa memilikinya, hubunganku dengannya selalu berjalan dengan baik, karna kami sama- sama pandai menyesuaikan diri dan saling memahami. Suatu ketika tak sengaja aku melontarkan sebuah pertanyaan padanya.
: “Mas, kenapa kamu bisa memilih untuk mendekatiku dan bahkan menikah denganku ? padahal saat itu kamu belum begitu mengenalku”
Suamikupun menjawab : ” siapa bilang sa’at itu aku baru mengenalmu?, aku sudah mengenalmu jauh sebelum kejadian itu, dan aku memang sudah sering memperhatikanmu dalam diamku. Aku tak ingin mendekatimu dengan cara yang salah. Aku hanya yakin pada Allah yang akan menyatukan hambanya tepat dengan seseorang yang memang pantas untuknya. Pertama kali melihatmu, aku sudah menaruh hati padamu, pada istriku yang membuat bidadari syurga cemburu J
:” lalu apa yang ada pada diriku yang membuatmu jatuh cinta dan benar- benar yakin aku akan menjadi pendampingmu? (“pertanyaan kedua yang aku lontarkan”)
Suamiku : “ tidak akan banyak alasan aku menjawab pertanyaanmu, karena aku mencintaimu semata- mata karena Allah, satu hal yang membuatku yakin dan beranikan diri mengambil tindakan untuk melamarmu, Kamu wanita yang membuatku kagum, karena saat itu tanpa sengaja aku membaca curahan hatimu didalam buku diary.”
Betapa tercengangnya aku mendengar jawaban dari suamiku. Ternyata dia memang sudah lama mengenalku, dan menyimpan perasaannya dalam do’a. Aku semakin takut kehilangan dia. Dia bahkan membaca curahan hatiku yang aku tulis dalam buku diaryku. Beginilah tulisanku yang membuatnya mengagumiku.
“ Dear diary, Cinta itu memang indah, karena memiliki berbagai arti dalam hidup yang ditakdirkan untuk kita, dengan hati yang mampu menyampaikan pesan syair rindu yang tercipta tanpa aku sadari, dengan nafsu yang kadang sulit untuk ditahan kadang membuatku ragu menentukan kepada siapa aku akan meletakkan hati. Aku menepihkan warna – warni hati dengan alasan belum pantas untuk aku berikan pada sosok yang belum tentu merupakan takdir yang tuhan gariskan untukku. Namaku “Anisa Fatima Zahara”, Aku hanya ingin meletakkan hati pada satu yang pasti, yang bisa menggerakkan hatiku untuk selalu ta’at pada sang pemilik hati. Aku biarkan hati bicara karna tak mungkin ia berdusta tentang rasa cintaku yang tulus. Aku yakin, akan ada waktunya tuhan menjawab do’aku tuk dipertemukan dengan dia yang memang pantas untukku. Karena aku akan benar- benar menjaga kesucianku untuk aku hadiahkan pada Pemudaku kelak”
Begitulah jika kita memang benar- benar ingin menempatkan hati pada seseorang yang Allah ridhoi, akan Allah buatkan suatu jalan yang indah. Ketika Kesucian seorang perempuan selalu dipertahankan, maka Allah akan lebih dulu menjaga kita dengan menyelipkan kita pada do’a seseorang yang akan dia takdirkan untuk kita. Semoga kami selalu disatukan didunia dan di taman syurga-NYA kelak. :)